Tuesday, 25 September 2018

Perjumpaan


Waktu terus mengalir, membawa tapak kaki ini menyusuri  setiap ruang yang telah Allah gariskan dalam lembaran peta hidup setiap Insan. Kita tak pernah tahu, dimanakah letak ujung perjalanan hidup kita. Yang kita tahu, banyak persimpangan yang kita lewati menjadi bentuk pilihan atas langkah yang kita ambil dalam kehidupan.

Dalam setiap pilihan, ada ruang yang berbeda, dengan suasana yang berbeda, dengan ujian dan kenikmatan yang berbeda, serta perjumpaan dengan orang-orang yang berbeda.  Setiap orang membawa pesan, setiap orang membawa kesan, dan setiap orang membawa kenangan yang berbeda pada setiap kesempatan.

Allah lah yang mempertemukan, dengan ribuan kemungkinan alasan, bukan kebetulan. Selalu ada pelajaran yang menjadi sebab sebuah perjumpaan. Mungkin juga, menjadi ujian bagi rapuhnya perasaan. 

Adalah satu keniscayaan, bahwa setiap perjumpaan berujung pada sebuah perpisahan. Karena durasi perjumpaan, tak selalu berbanding lurus dengan panjangnya angan-angan.

Penyesalan, mungkin datang di setiap akhir kisah perjumpaan. Karena kesempatan tak mewujudkan apa yang diangankan. Tapi penyesalan, hanya akan menjadi beban dalam menitih kisah yang berkelanjutan. 

Percayalah, skenario yang Allah buat adalah sebaik2 perencanaan. Ikuti alurnya, ikuti prosesnya, karena ada banyak pelajaran dalam setiap tahapan. Allah ingin kita kuat, Allah ingin kita siap, menjemput takdir yang semoga sejalan dengan angan-angan.

#romli_amrullah

Thursday, 2 August 2018

Sebuah Goresan Malam: Bintang Terindah

Ini adalah malam yang sunyi, aku berdiri berteman sepi, aku mencoba mencarimu di sana, diantara bintang-bintang, yang menghias langit Kerinduan.
_
Kulihat satu di sana, cahayanya terang dan meneduhkan. Adakah itu dirimu? yang Ia siapkan untukku. Aku berharap demikian, aku bermimpi suatu saat nanti, aku akan memiliki sayap, aku akan terbang dan menghampirimu di sana.
_
Kucoba menulis sajak ini, sembari memandangmu dari kejauhan, dan kau memang berbeda, dari yang lain. Sesekali awan datang, menyembunyikan mu dibalik angan-angan, aku di sini berteman kerinduan.
_
Aku hanya berfikir, adakah kau melihat diriku saat ini. Bersembunyi dibalik gelapnya malam. Adakah kau rasakan hembusan angin ini, terus menyapa tiada henti. Aku ingin menitip pesan padanya, namun seolah dia justru berpesan padaku, "Bersabarlah pantaskan dulu dirimu".

#catatanmalam

Sunday, 29 July 2018

Ulasan Buku: DAN BROWN; a Biography


_Penulis: Lisa Rogak
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Bentang
Tebal Buku: 237 halaman
Pengulas: @romli_amrullah
_
"Kisah hidup Novelis paling kontroversial abad ke 21", adalah satu kalimat pendek yang tertulis jelas di sampul buku ini. Dan Brown, pernah mendengar namanya, pernah juga melihat karyanya, The Da Vinci Code tetapi belum pernah membacanya. Itulah kemudian yang membersit di hati saya, kenapa sampai Novelis ini dikatakan paling kontroversial. Dan pada akhirnya saya pun menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Adalah satu pengantar yang patut disyukuri bisa membaca buku biografi ini sebelum nanti berkesempatan membaca karya-karyanya.
_
Dan Brown, pria itu sejak kecil memang terbiasa hidup dengan teka-teki dan kode yang dibuat oleh orang tuanya, dan dengan itulah ia besenang-senang. Misalnya saja ketika pagi Natal, saat sebagian besar anak-anak lain menemukan kado mereka di bawah pohon, Brown dan adiknya akan mendapati peta harta karun berisi kode-kode yang akan menuntun mereka dari satu ruangan ke ruangan lain, dan akhirnya menemukan kado mereka disembunyikan di ruangan lain rumah mereka.
_
Satu fakta yang menarik dari Dan Brown bahwa ternyata ia bukan penulis buku terlaris pertama dalam keluarganya, ayahnya Richard Brown adalah salah seorang penulis dari serial buku teks matematika yang paling direkomendasikan di ruang kelas di seluruh penjuru Amerika Serikat dengan judul "Advanced Mathematics; Precalculus With Discrete Mathematics and Data Analysis".
_
Brown remaja digambarkan sebagai seorang yang konyol dan mudah bergaul. Salah seorang temannya Ordway bertutur bahwa Brown adalah teman yang menyenangkan. Dia pandai bercanda dan menunjukkan hal-hal lucu mengenai orang lain, dan tidak pernah menanggapi apapun dengan terlalu serius.
_
Dalam buku ini diceritakan bahwa awalnya ketertarikan Brown Bukanlah pada novel, tapi pada aktivitas musik. Ia pernah memberitahu teman dan guru-gurunya bahwa setelah lulus dari sekolah Ia ingin menjadi seorang penyanyi dan pengarang lagu. Dia memiliki suara yang lumayan bagus kata Ordway. Sebagai salah satu buktinya Brown pernah bergabung dengan National Academy of Song Writer, sebuah kelompok yang memiliki banyak anggota musisi terkenal seperti Billy Joel dan Prince.
_
 Dalam buku ini juga banyak disebutkan tentang istri Brown. Namanya Blythe, seorang wanita 12 tahun lebih tua dari Brown. Selain sama-sama menyukai musik, Brown dan istrinya juga sama memiliki minat tinggi dalam sejarah seni, terutama karya Leonardo Da Vinci.
_
Dalam buku ini disebutkan Brown telah menghasilkan beberapa album. Tapi ada satu fakta yang bertolak belakang dengan impiannya itu, Brown berkata Dia tidak ingin disorot publik dan tampil di depan umum, sedangkan jika ingin sukses di dalam bisnis musik dia harus menjadi seorang penampil.
_
Fakta itulah yang kemudian menjadikan tahun 1995 sebagai titik balik dalam kehidupan Brown. Album terakhirnya yang berjudul "Angels and Demons" terakhir dirilis dan mulai menulis novel pertamanya, Digital Fortres.
_
Terus berlanjut hingga novel keduanya "Angels & Demons" dan yang ketiga "Deception Point". Salah satu keunikan yang ada dalam setiap novel Brown adalah Ia melakukan penelitian dan riset serta mengambil latar yang benar-benar ada di dunia nyata.
_
Hingga tiba waktunya Brown memulai riset untuk novel keempatnya, "The Da Vinci Code". Fakta yang ditemukan dalam riset itu banyak yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan padanya semasa kecil baik di sekolah maupun di gereja. Inilah yang kemudian menjadi akar novel keempat Brown yang sangat kontroversial.
_
Brown memandang The Da Vinci Code sebagai cara untuk mendidik pembaca mengenai intrik dan sejarah mengenai Priory of Sion dan Opus Dei, dan memperkenalkan orang-orang pada kode tersembunyi dalam karya seni Leonardo Da Vinci.
_
Akhirnya the Davinci Code resmi dipublikasikan pada Maret 2003, sebanyak 230.000 kopi terjual habis saat cetakan pertama dan lebih dari sepuluh juta kopi di akhir rentang waktu dua tahun, serta memuncaki daftar buku terlaris New York times untuk fiksi hard cover. Brown lebih dari sekedar sukses, Dia menjadi penulis buku terlaris di Amerika Serikat.
_
Novel keempat Brown yang penuh dengan fakta-fakta kontroversial ini kemudian mendapat banyak tanggapan dari berbagai pihak, Ada yang menuduh Brown telah melakukan plagiarisme atas karyanya, Brown juga mengakui menerima surat dari pendeta dan banyak surat dari biarawati, dari kaum Pagan dan feminis, dari orang-orang Katolik juga orang-orang yang menyebut dirinya sebagai mantan Katolik dan sudah bertobat. Hingga ada yang menuduhnya sebagai anti Kristen.
_
Bahkan tak hanya sebatas surat dan tuduhan-tuduhan, banyak kemudian buku-buku yang kritis terhadap novel The Da Vinci Code, diantaranya adalah Breaking The Da Vinci Code karangan Darrel L. Bock, The Davinci Deception karangan Erwin W. Lutzer, Cracking Da Vinci's Code karangan James L. Garlow dan Peter Jones, dan The Da Vinci Hoax karangan Sandra Miesel dan Carl Olson. Secara keseluruhan ada sekitar 2 lusin buku yang mengkritik The Da Vinci Code. 
_
Buku ini sangat cocok untuk Anda yang sudah pernah membaca karya-karyanya. Ada kisah dibalik karya-karya itu. Juga cocok untuk Anda yang belum pernah membaca karya-karyanya (seperti saya). Seperti apa sih isi novel itu? sampai bisa se-kontroversial itu... 
___________________

"Brown sangat ahli membuat pembaca percaya bahwa buku dan gang tua berdebu menyamarkan konspirasi global." (The Washington Post)
___________________

Salam literasi, mari beraksara 
_
#kammiaksara #kammimembaca #jayakanindonesia2045 #bookreview

Friday, 27 July 2018

Ulasan Buku: JEJAK PERLAWANAN MANDELA; Di antara Suramnya Kolonialisme dan Politik Apartheid


Penulis: Tofik Pram
Penerbit: Edelweiss
Tebal Buku: 377 halaman
Pengulas: @romli_amrullah
_
Buku yang terbit pada Maret 2014 ini ditulis oleh seorang pria asal kota Madiun Jawa Timur. Dengan apik penulis menempatkan dirinya sebagai kata ganti orang ketiga dan menceritakan kehidupan Nelson Mandela sebagai tokoh utama dalam buku ini.
_
Tepat pada tanggal 18 Juli 1918 bocah laki-laki itu dilahirkan. Rolihlala namanya, terlahir sebagai bocah primitif dari keluarga tradisional suku Thembu di Umtata, Transkei, Afrika Selatan.
_
Pada bagian awal buku ini penulis tidak hanya menceritakan Nelson Mandela sebagai seorang individu, tapi juga lebih banyak mengungkap fakta fakta kehidupan dan tradisi masyarakat Afrika. Namun tetap Rolihlala lah yang menjadi perhatian utama cerita menarik penulis.
_
Pada masa kecilnya Nelson Mandela pernah berpindah ke sebuah wilayah bernama Qunu bersama ibunya. Hal itu karena sesuatu hal telah terjadi pada ayahnya. Di sana Ia tumbuh sebagai seorang bocah lelaki yang mewarisi sifat ayahnya; tegas, disiplin, namun penuh kasih sayang demi menjaga kehormatan.
_
Pada awalnya Rolihlala tak menyadari bahwa kaumnya sedang dikerdilkan oleh imperialisme Inggris. Bagi si kecil Rolihlala, orang kulit putih bagaikan Dewa. Seolah mereka hidup sangat jauh di suatu alam yang sama sekali berbeda. Waktu itu di tahun 1920-an bangsa kulit hitam memandang kulit putih sebagai bangsa yang harus dihormati bahkan ditakuti.
_
Dan di bangku sekolah lah Rolihlala mendapatkan nama "Nelson", itu adalah nama pemberian seorang guru kulit putih. Karena bagi bangsa kulit putih nama asli bangsa Afrika adalah nama-nama yang ketinggalan zaman dan primitif.
_
Kisah berlalu dan pada tahun 1939 Nelson melangkah ke jenjang pendidikan tinggi, tepatnya di Universitas Fort Hare, satu-satunya pusat pendidikan tinggi untuk orang kulit hitam di Afrika Selatan. Namun di sana lah Nelson pernah dihantam badai putus asa ketika cita-citanya menjadi seorang sarjana dan impiannya menundukkan dunia dengan gelar BA pupus karena kukuh mempertahankan kehormatan demokrasi.
_
Bersama berbagai deraan itu, Nelson bertemu tokoh-tokoh besar yang menginspirasinya. Nelson belajar banyak hal dari mereka. Kesadaran Nelson pun tumbuh dan dia bermetamorfosis menjadi Nelson Mandela. Dia mulai menempuh perjalanan panjangnya melawan imperialisme. Setiap ayunan langkahnya membawa semangat untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi seluruh umat manusia di muka bumi.
_
Bagi Nelson, perlawanan bukan hanya soal orasi, demonstrasi, mengirim delegasi atau pemogokan. Perlawanan harus diorganisir dengan sangat rapi, teliti dan dilakukan secara militan. Di atas semua itu yang lebih penting adalah kesediaan untuk menderita dan berkorban.
_
Apartheid itu sendiri di dalam buku ini digambarkan sebagai sebuah supremasi kulit putih yang melegitimasi posisi mereka di atas kulit hitam dan kulit berwarna lainnya.
_
 Mengutip salah satu ungkapan Nelson di dalam buku ini, "Aku adalah seorang nasionalis Afrika yang memperjuangkan kekuasaan minoritas dan emansipasi bangsaku. Kami menuntut hak atas nasib kami sendiri. Tetapi, pada saat yang sama, walau bagaimanapun juga Afrika adalah bagian dari dunia yang sangat besar. Masalah kita Jika dilihat dalam konteks sejarah dunia yang lebih luas, tidaklah unik. Masalah kita juga terjadi di belahan dunia lain. Kita adalah bagian dari sejarah dunia."
_
Keangkuhan kolonialisme telah merasakan kekuatan pukulan Nelson. Seorang kulit hitam yang membuktikan pada dunia bahwa dia mampu berjalan tegak seperti manusia lainnya. Yang melihat semua orang dalam bingkai martabat yang sama. Yang tidak harus menyerah pada penindasan dan rasa takut. Nelson mengirimkan pesan pada dunia bahwa kaum tertindas bisa marah pada saatnya.
___________________

"Seperti yang telah saya katakan hal pertama adalah jujur dengan diri sendiri. Anda tidak pernah bisa mengubah masyarakat jika Anda belum mengubah diri sendiri. Pendamai besar adalah semua orang yang penuh integritas kejujuran tapi rendah hati." (Nelson Mandela)
___________________

Salam literasi, mari beraksara
_
#kammiaksara #kammimembaca #jayakanindonesia2045 #bookreview

Ulasan Buku: Imam Shamsi Ali; Menebar Damai di Bumi Barat


Penulis: Julie Nava
Penerbit: Noura Books
Tebal Buku: 302 halaman
Pengulas: @romli_amrullah

Buku dengan sampul hijau keabu-abuan dihiasi foto seorang Imam Masjid di Amerika Serikat ini menarik perhatianku. Beliau berasal dari Indonesia, hanya itu yang ku tahu dan saat menemukan buku ini aku hampir tak berminat untuk membacanya. Namun semua itu berubah saat aku mulai membaca paragraf ke-3 halaman kedua pada bagian pertama buku ini. Ya, beliau berasal dari sebuah kampung yang lumayan terkenal di Sulawesi Selatan, kampung yang sangat kuat memegang tradisi dan jauh dari kehidupan modern.

Buku ini ditulis oleh Julie Nafa, seorang penulis, konsultan, entrepreneur sekaligus peneliti yang memiliki banyak karya dan prestasi. Ia menulis buku ini dengan menggunakan kata ganti orang pertama tunggal "aku". Sehingga pembaca akan merasa lebih dekat dengan tokoh yang ada dalam buku ini.

Ialah Utteng, nama kecil Imam besar itu saat masih di kampung.  Ia menggambarkan dirinya sebagai anak yang nakal dan pemalas. Misalnya ketika Puang (panggilan untuk ayah) memerintahnya mencari makanan kuda, tapi karena keasyikan bermain lebih menggoda hasratnya Ia pun lupa mencari makanan kuda itu. Apalagi ketika tidak jarang Ia berkelahi dengan anak-anak kampung.

Babak kedua pun dimulai ketika Utteng melanjutkan sekolahnya di sebuah pesantren di Kabupaten Maros. Di pesantren itu lah kemudian seorang Kyai mengganti namanya menjadi Muhammad shamsi Ali.

Singkat cerita dengan penuh perjuangan dan segala bukti kebesaran Allah akhirnya Muhammad shamsi Ali berhasil meneruskan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi di Pakistan, tepatnya di internasional Islamic University (IIU).

Amat lengkap dan rinci Imam shamsi Ali menceritakan kisah perjalanan hidupnya. Termasuk ketika ia berumur 22 tahun dan telah menyelesaikan pendidikannya di Pakistan, Ia menikahi seorang wanita yang atas kuasa Allah juga berasal dari Pondok Pesantren tempat ia menimba ilmu sebelumnya. Lucu dan mengesankan.

 Waktu demi waktu terus berjalan. Hidup di Kota Jeddah pernah Ia lakoni bersama istrinya sebelum akhirnya kuasa Allah memberinya kesempatan untuk memijakkan kaki dan hidup di negara adidaya Amerika Serikat.

Dengan detail dan sangat apik Imam shamsi Ali menceritakan kehidupan damai antar umat beragama di Amerika Serikat. Hingga pada akhirnya peristiwa 11 September di gedung World Trade Center (WTC) mengubah paradigma masyarakat Amerika terhadap orang-orang Muslim.  Pada titik inilah perjuangan Imam shamsi Ali semakin berat dalam menebar damai antar umat beragama di bumi Amerika.

Sikapnya yang santun, cerdas dan berwawasan luas serta karunia Allah yang senantiasa mengiringi langkahnya menjadikan Ia sosok pemimpin komunitas muslim di Amerika Serikat yang disegani, serta menjadikan Islam di Amerika memiliki banyak pemeluk-pemeluk baru.
___________________

"Tidak saja berisi narasi biografis, tetapi juga perjuangan menerbit-tinggikan identitas Islam di Barat." (Anies Baswedan)
___________________

Salam literasi, mari beraksara

#kammiaksara #kammimembaca #jayakanindonesia2045 #bookreview

Ulasan Buku: Cara Asyik Review Buku


Penulis: Adi Wahyu Adji
Tebal Buku: 56 Halaman
Pengulas: @romli_amrullah

Buku ini diterbitkan oleh penulis langsung dalam bentuk ebook dan bisa dimiliki secara gratis.
____________________________

Membaca adalah suatu aktivitas yang memiliki banyak sekali manfaat. Hanya saja aktivitas ini tak banyak orang yang suka melakukannya, ada yang suka tapi cepat bosan ya seperti saya ini. Namun berawal dari langkah kecil ini semoga bisa menjadi lebih bersemangat dan istiqomah dalam membaca buku dan berbagi manfaat dari hasil bacaan nantinya.

Buku yang berjudul "Cara Asyik Review Buku" ini ditulis oleh sosok inspiratif yang saya kenal sejak bergabung dalam sebuah instansi beasiswa 2 tahun lalu. Namanya Adi Wahyu Adji atau biasa kami panggil dengan Bang Adji. Beliau pernah menjadi narasumber di gerakan "One Week One Book" dan bersama mempopulerkan semangat gerakan itu sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat baca masyarakat, selain itu beliau juga membuat satu paket training dan workshop #membacaitunikmat yang telah sukses terlaksana sejak akhir tahun 2017 di berbagai kota di Indonesia.

Buku yang hanya memiliki tebal 56 halaman ini sunnah dibaca buat kita yang ingin berbagi manfaat dan pengetahuan dari buku bacaan yang kita baca. Namanya juga Sunnah, kalau nggak baca juga nggak apa-apa, tapi kamu nggak bakal dapat manfaat dan kesempatan berbagi manfaat dari buku ini.

Buku ini membuka pikiran dan pemahaman tentang 1 Aktivitas yang sangat bermanfaat yaitu review buku. Dengan apik Penulis memaparkan beberapa alasan kenapa review buku ini menjadi bagian penting untuk melengkapi aktivitas membaca kita. Dengan hanya terdiri atas 4 bab yang singkat buku ini cukup mudah dipahami dan diimplementasikan. Selain memberikan cara asyik dan tips menarik untuk membuat review buku, penulis juga memberi 6 contoh review buku yang telah Ia buat pada bab terakhir dari buku ini.

"Review buku yang bagus adalah review buku yang selesai" (Penulis buku).

Salam literasi, mari beraksara

#kammiaksara #kammimembaca #jayakanindonesia2045 #bookreview

Wednesday, 30 May 2018

Serpihan Akhlak Yang Hilang


Memang sudah semestinya, Islam sebagai ajaran yang syumul atau menyeluruh telah mengatur segala aspek kehidupan manusia. Dari apa yang ada pada dirinya sendiri maupun dalam kehidupan sosialnya. Segala bentuk aturan dan tuntunan yang diajarkan oleh Islam pada dasarnya adalah untuk menciptakan keteraturan dan kemaslahatan bagi umat manusia itu sendiri. Tidak ada satu pun perintah yang diajarkan oleh Islam adalah untuk menciptakan kerusakan, kebencian, perceraian, dan segala bentuk kedzaliman di muka bumi ini.

Sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa Islam adalah agamanya, dan Allah adalah Tuhan satu-satunya, harusnya mampu menjadi pribadi yang santun dan memberi teladan bagi muslim yang lain.  Namun nyatanya, ada yang hilang dari kaum muslimin saat ini. Yang menyebabkan sebagian besar orang-orang muslim tak lagi memiliki izzah, tak mampu menjadi pribadi yang santun di hadapan muslim lainnya, apatah lagi di hadapan orang-orang kafir.

Ialah kepribadian dan bangunan akhlak yang hilang dari diri mereka. Kepribadidan  yang sejatinya sejak awal telah dibentuk dan dibina oleh manusia mulia, Muhammad saw., dan telah jelas diterangkan kriterianya dalam lembaran-lembaran mushaf Alqur’anul Karim. Sungguh kepribadian itu, dimiliki oleh pribadi-pribadi yang senantiasa berusaha memperbaiki diri, mengenal Islam dan hakikat keberadaan Allah melalui ayat-ayatNya. Sehingga apa yang Ia lakukan semata-mata hanya tertuju pada anugerah dan naungan ridhoNya.

Ialah Rasul Allah, Muhammad saw., yang telah berhasil membina dan membentuk sebuah generasi dengan kepribadian yang luar biasa. Yaitu pribadi-pribadi yang siap memikul beban risalah di pundaknya, mendirikan daulah, membangun peradaban, serta mengukir sejarah besar dalam kehidupan umat manusia. Ialah Muhammad saw., yang mampu mengubah pribadi-pribadi lemah menjadi kuat, yang penakut menjadi pemberani, yang bodoh menjadi pintar, yang bercerai menjadi bersatu, dan mengubah manusia-manusia tanpa adab menjadi sebaik-baik umat berperadaban di muka bumi.


Maka dari pengajaran itu, layaknya kaum muslimin kembali berusaha mengembalikan pribadi-pribadi mereka memiliki kepribadian seperti umat terdahulu. Berusaha memperbaiki diri, memperbaiki kepribadian dan bangunan akhlak yang ada pada diri mereka. Segala ucapan dan tindakan yang dilakukannya harus senantiasa bersandar pada apa yang diajarkan oleh Rasulullah melalui kitab Al-Qur’an dan Sunnah-sunnahnya. Agar setiap muslim menjadi pribadi-pribadi yang ikhlas dan jujur, melaksanakan ibadah sesuai dengan syariatnya, menjauhi larangan sesuai kadarnya, menyampaikan ilmu dengan pemahaman dan hikmah yang nyata, serta menjadi pribadi yang patut untuk dijadikan teladan bagi muslim yang lain, maupun mereka yang saat ini belum mendapatkan hidayah dari Sang Pencipta.

R.A.

Tuesday, 29 May 2018

Para Penyeru Jalan Tuhan


Ialah Islam, agama yang tak ada keraguan bagi seorang muslim yang beriman. Islam yang syumul, meliputi segala hal, tak terbatas ruang dan waktu. Dulu maupun sekarang, di Masjid maupun di hutan, Islam adalah satu dan Allah tetaplah sama. Ialah Islam, agama penyempurna dan penutup dari segala bentuk ajaran yang pernah Allah turunkan di muka bumi melalui Rasul-rasul-Nya. Ialah agama yang mulia, penuh cinta, perdamaian dan kasih sayang. Adalah juga kemuliaan bagi insan yang bersedia berlelah menitih jalan dakwah untuk menjadi penyeru kebaikan, menyeru manusia pada agama yang hanif dengan keutuhan dan keuniversalannya, dengan syi’ar dan syari’atnya, dengan akidah dan kemuliaan akhlaknya, serta penyampaian yang benar.

Ialah Muhammad, sebaik-baik penyeru agama ini yang Allah datangkan kepada manusia. Seorang Rasul yang Allah pilih, seorang manusia mulia dengan akhlak yang luar biasa. Seorang Rasul yang merasakan berat penderitaan kaumnya, Rasul yang menginginkan keimanan dan keselamatan bagi sekalian umat manusia, Rasul yang amat penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Sungguh, Islam sebagai satu-satunya jalan yang diridhoi Allah adalah satu bentuk tak terpisahkan dari para penyerunya. Ialah orang-orang mukmin itu sendiri yang berkewajiban memikul beban untuk menyerukan agama ini dengan caranya masing-masing. Dengan cara yang tepat dan tentunya disertai pemahaman yang benar atas agama itu sendiri. Seorang mukmin yang menyerukan agama ini dengan pemahaman yang benar namun dengan cara penyampaian yang tidak tepat adalah sama berbahayanya dengan seorang pendakwah yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Islam namun pandai dalam berargumen dan berbicara di depan orang lain.

Oleh karenanya, agama yang mulia ini akan tetap mulia dalam penyeruannya kepada manusia. Apabila penyeru-penyerunya adalah mereka yang memiliki pemahaman yang lurus terhadap agama ini. Penyeru yang berakhlak dan mampu menjadi teladan serta pandai memberi hikmah dalam setiap untaian kata dan tindakannya. Penyeru yang tidak hanya paham, namun juga tau bagaimana menyampaikannya dengan cara yang tepat pada setiap objek seruannya.

Bagi para penyeru agama ini, pahamilah bahwa ini adalah tugas para Rasul yang mulia. Yang menyampaikan perintah Allah dengan pemahaman, cara dan petunjuk yang jelas. Tugas yang pada akhirnya diwariskan kepada para ulama dan aktivis dakwah yang ikhlas, rela berlelah di jalan sempit dan berduri. Jalan yang tak banyak orang memilihnya. Sungguh, mereka layak meraih derajat yang mulia dan pahala yang besar di sisi Allah swt.

Ialah Rasul yang mulia, yang pernah bersabda pada masa hidupnya; “Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, ia berhak memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, ia mendapat dosanya seperti dosa yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka” (HR. Muslim, Malik, Abu Daud, dan Tarmidzi).


Lalu, adakah yang lebih mulia daripada apa yang mereka lakukan?, menyeru manusia pada jalan Tuhannya, kepada petunjuk dan hukum-hukum-Nya. Memang tak mudah, karenanya tak banyak yang mau melaluinya. Dan ketahuilah, bahwa tugas ini pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung. Semua takut, hanya manusia yang berani menerimanya.

R.A.

Tugas Kita Adalah Bersyukur


Raga telah tercipta, ruh telah ditiupkan, nikmat Allah pun mulai mengalir menjumpai setiap insan yang akan lahir ke dunia. Tak ada yang sanggup mengingatnya, setiap nikmat dan kasih sayang Allah yang tercurah kepada si jabang bayi yang masih berada di dalam kandungann ibunya. Nikmat yang rasanya begitu nyaman, tanpa beban dan tanggung jawab yang harus dijalani. Sehingga ketika pada saat ia keluar dari Rahim ibu, ia melihat dunia yang penuh dengan hal-hal besar, sesuatu yang tidak pernah terbayang, begitu banyak beban dan tanggung jawab yang siap dipikul. Perasaan takut yang tergambar dalam setiap tangisan si kecil itu.

Ialah manusia, makhluk yang Allah ciptakan sebagai sebaik-baik penciptaan. Dengan begitu indah dan sempurna Allah membuat skenario kehidupan bagi masing-masing darinya. Setiap helaan nafas, penglihatan, pendengaran, kesehatan dan lainnya yang Allah berikan, adalah agar kita bersyukur terhadapnya. Kita yang memiliki sepasang mata indah, tak pernahkah terbayang bagaimana rasanya menjadi  mereka yang semasa hidupnya tak sempat melihat kebesaran Allah melalui ayat-ayat kauniyahNya di dunia ini. Kita yang memiliki sepasang kaki yang kuat, tak pernahkah terpikir bagaimana rasanya menjadi mereka yang harus berjalan dengan kursi roda. Kita yang memiliki badan yang sehat, tak pernahkah terbayang bagaimana rasanya terbaring lemah di rumah sakit.

Allah tak menuntut banyak atas apa yang telah Ia karuniakan kepada manusia. Allah hanya ingin kita bersyukur, bersyukur atas semua karuniaNya. Sebanyak apa pun manusia bersyukur, tak menambah sedikitpun kemuliaan Allah. Kalaupun tidak ada yang bersyukur, juga tak mengurangi sedikit pun kebesaran Allah. Segala bentuk syukur manusia kepada Sang Pencipta adalah kembali kepada manusia itu sendiri. Semakin manusia bersyukur, maka Allah juga akan semakin menambah kenikmatan itu kepadanya. Lalu bagaimana jika manusia kufur terhadapnya?, sunggup azab Allah akan menanti untuk menghampirinya.

Ialah hati, yang dengannya manusia patut bersyukur. Meyakini bahwa setiap kenikmatan yang dirasakan adalah hanya bersumber dari Allah swt. Keyakinan yang terpatri di dalam hati akan berbuah pada lisan yang senantiasa melantunkan kalimat pujian kepada Allah swt. Lisan yang terjaga  dari  keluhan dan segala macam bentuk kekufuran atas nikmat yang telah Allah berikan. Lisan yang senantiasa bersyukur juga akan berbuah pada apa yang dilakukan oleh seluruh anggota tubuh. Adalah sebuah bentuk kesyukuran, menggunakan seluruh potensi akal dan raga yang Allah berikan untuk melakukan kebaikan demi menggapai ridhaNya.


Bersyukurlah atas setiap keadaan yang Allah persaksikan. Bersyukur atas teman dan orang-orang yang saat ini membersamai. Tak ada yang tahu, di depan sana, apa yang telah Allah rencanakan atas setiap hambaNya. Peganglah ia, teman sholih sholihah yang saat ini bersama. Karena mungkin nanti, tak ada lagi teman syurga sebaik dia, yang Allah pertemukan dalam belahan masa yang akan datang. Syukuri apa yang dimiliki saat ini, sadarlah bahwa di luar sana, banyak insan yang berharap menjadi seperti kita tapi tidak bisa. Bersyukurlah atas ilmu dan kesempatan untuk menuntutnya, gunakan sebaik-baiknya dan manfaatkan untuk kebaikan sesama. Jadikan semua berbuah manfaat, apapun yang dimiliki, apapun yang dipunya. Bukankan manusia terbaik adalah mereka yang paling banyak manfaatnya. 

R.A.

Sejatinya Yang Berbeda Itu Adalah Sama


Berawal dari ketiadaan. Segumpal daging yang menempel bersama dengan tulang yang lembut di dalam Rahim seorang yang mulia dan harus dihormati serta ditaati. Ialah si jabang bayi, yang oleh Allah dipersaksikan langsung di hadapan-Nya. Persaksian yang akan menandai kesiapannya dalam mengemban tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi ini. Ialah Allah yang dengan tegas mengajukan pertanyaan kepada calon-calon manusia penghuni Rahim, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Dengan yakin dan percaya diri ia pun mejawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.

Sungguh manusia adalah makhluk yang amat bodoh, bagi sebagian orang, mereka bodoh karena bersedia mengemban amanah menjadi khalifah di muka bumi ini. Saat langit, bumi dan gunung menolak untuk mengemban amanah selayaknya apa yang diberikan kepada manusia. Namun sungguh, itu bukanlah suatu kebodohan. Itu adalah bukti keberanian yang sejalan dengan maksud Allah menciptakan manusia di muka bumi ini. Allah menciptakan manusia memang untuk menjadi khalifah, menjadi pengatur di muka bumi. Bukan langit, gunung, atau bumi itu sendiri.

Berangkat dari sebuah persaksian, manusia ditempatkan pada alam yang sama, memiliki status yang sama sebagai manusia dan hamba Allah swt. Tidak ada manusia yang dilahirkan dalam kondisi sebagai orang yang luar biasa. Sewajarnya, manusia dilahirkan dengan kondisi yang sama. Polos, tanpa kemampuan dan daya untuk berusaha. Orang-orang disekitarnyalah yang memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya. Hanyalah isyarat dengan tangis yang mampu ia pertunjukkan.

Akankah kita menyadari itu, bahwa kita adalah satu. Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Semua, bukan untuk golongan atau keturunan tertentu. Semua Allah ciptakan  sebagai hamba-Nya, memiliki kesempatan yang sama dan balasan yang sama. Ada balasan dari setiap kebaikan yang dilakukan, ada pula balasan bagi setiap keburukan yang digoreskan. Berlaku bagi siapapun, raja, presiden, menteri, pengusaha, akademisi, petani, pemulung, dan lainnya.

Dalam setiap persamaan dan penyetaraan itu, ada dua hal yang menjadi pembeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Ialah hati dan amal sholeh, yang menjadikan manusia lebih mulia dibandingkan dengan malaikat, atau menjadikannya hina dibandingkan dengan binatang ternak. Ialah hati, yang menjadi kunci diterimanya sebuah penghambaan. Di sana terletak niat, di sana bersemayam godaan duniawi, di sana pula bertahta impian akhirat yang mulia. Sedang amal sholeh, menjadi bukti atas setiap kata yang berbalut iman di dalam hati. Menjadi ungkapan rasa syukur atas setiap nikmat, menjadi bukti ketakutan akan ancaman dan kebesaran Allah swt.

Ialah diri, yang hina dan penuh dengan keterbatasan. Tak ada satu hal pun yang pantas untuk dibanggakan di hadapan orang lain, apatah lagi di hadapan Allah swt. Asal kita sama, tempat kembali kita pun tak ada yang berbeda. Terbungkus secarik kain dalam lubang sempit tanpa celah di sisi-sisinya. Adanya perbedaan di kehidupan ini, adalah cara Allah agar manusia saling mengenal dan melengkapi, saling berbagi dan menjalin silaturahmi. Bukan untuk saling berbangga dan meninggikan hati.


Dari sini kita mengambil pelajaran, bahwa dengan adanya perbedaan seharusnya manusia saling melengkapi, saling memberikan warna, bersama dan bersatu agar menjadi kuat, juga untuk menciptakan keindahan. Bukankah pelangi itu berbeda-beda, dan karena perbedaan itu ia indah. Bukankah kopi akan terasa pahit jika tak bersama-sama dengan gula. Gula juga tak akan nikmat jika hanya sendiri. Namun, ketika perbedaan itu disatukan, akan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti dan disukai banyak orang.

R.A.

Monday, 28 May 2018

Saudariku, Tutuplah Auratmu


Jika kita menengok keadaan generasi Islam masa kini. Saat dimana teknologi semakin maju, media informasi semakin berkembang, dan sarana menuntut ilmu semakin mudah. Justru semakin banyak kita lihat generasi Islam yang terbawa arus dan lupa atau sengaja melupakan aturan Islam yang seyogyanya adalah untuk kebaikan diri mereka sendiri. Banyak kita lihat saudari-saudari muslimah kita yang dengan sengaja keluar dari rumah tidak mengenakan  jilbab. Bahkan mengenakan pakaian ketat yang mengumbar auratnya sendiri. Yang lebih disayangkan adalah, hal demikian telah dianggap biasa, tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan yang perlu diingkari.

Alangkah menyedihkan ketika mereka yang telah berusaha untuk menutup aurat, menjaga pandangan dan pergaulannya justru dianggap sebagai sesuatu yang aneh, bahkan lucu. Ironi memang ketika media informasi semakin berkembang dan sarana untuk belajar Islam semakin banyak dan mudah, namun justru banyak pula saudari muslimah yang menutup diri akan hal itu. Justru dianggap norak dan tidak modis ketika jilbab terurai nan anggun, pakaian lebar dan tidak membentuk lekuk tubuh. Tidak tahu dan tidak ingin tahu bagaimana sebenarnya Islam telah mengatur cara berpakaian seorang muslimah. Aturan yang ada justru dianggap membatasi untuk berkreatifitas dan bergaul kepada sesama. Padahal jika mereka telah merasakan, justru dengan jilbab itu mereka akan lebih terjaga.

Ada yang mengatakan bahwa perbaiki dulu hati, baru setelah itu menutup aurat. Sungguh hati tidak akan pernah menjadi baik ketika aurat yang nampak secara lahir pun tak berusaha engkau tutupi. Saudariku, menutup aurat bukanlah Sunnah, tapi itu wajib. Wajib bagi setiap wanita yang menyatakan bahwa dirinya beragama Islam. Entah hati mereka telah baik maupun dalam usaha untuk menjadi baik. Perkara hati dan menutup aurat adalah dua hal yang berbeda. Seorang wanita diwajibkan untuk menutup aurat bukan ketika Ia telah baik, tapi ketika telah beranjak akil baligh.

Ada pula dari saudari muslimah yang berdalih dengan kalimat “Laa ikroha fi diin”, yang artinya tidak ada paksaan dalam beragama. Agama Islam sendiri tidak memaksa kepada siapa saja untuk mengikutinya, namun demikian bukan berarti bebas dalam menentukan pilihan untuk melaksanakan perintah agama ataupun tidak. Akan tetapi bagi mereka yang memilih untuk tidak mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Islam, maka akan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Bahkan Rasulullah telah mensinyalir bahwa kaum wanita yang enggan untuk mengenakan jilbab, ia berpakaian tapi seperti telanjang, tidak akan mencium harumnya bau surga.

Al-Qur’an telah gamblang menjelaskan ancaman bagi mereka yang  enggan untuk mengenakan jilbab. Ialah neraka yang dengan segala bentuk penyiksaannya akan menjadi tempat kembali. Anggapan yang salah jika berfikir bahwa perkara menutup aurat adalah perkara yang tidak terlalu besar dan bisa ditutupi dengan mendulang pahala lain seperti shalat lima waktu, zakat, haji, dan berpuasa. Padahal Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Maidah ayat 5, “Barangsiapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat kelak ia termasuk orang orang yang merugi”.

Berjilbab merupakan salah satu bagian dari syariat Islam, oleh karena itu jika seorang muslimah enggan berjilbab maka berarti Ia telah mengingkari syariat Islam. Sehingga walaupun Ia telah rajin shalat lima waktu, puasa, zakat dan berbagai ibadah Sunnah lainnya namun tidak menunaikan kewajiban berjilbab, maka Ia akan termasuk kepada golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak.

Selain kerugian yang akan dialami oleh diri pribadi saudari muslimah yang enggan mengenakan jilbab. Perbuatan tersebut juga akan berdampak kepada orang lain yang juga akan merasakan ancaman dari Allah SWT.  Seorang anak yang tidak memakai jilbab ketika keluar rumah, maka hal tersebut juga akan berimbas pada ancaman neraka bagi orang tuanya. Lebih daripada itu, ketika seorang muslimah tidak mengenakan jilbab dan mengumbar auratnya, hal tersebut akan menjadi godaan bagi lawan jenisnya. Akankah saudari muslimah menginginkan hal tersebut?. Berdosa sekaligus membuat orang lain juga berdosa. Mari sedikit demi sedikit kita memperbaiki hati kita. Namun kewajiban berjilbab jangan sampai ditunda-tunda. Kita tidak tahu kapan Allah akan menyudahi cerita hidup kita di dunia ini.


Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takuti atas umatku ialah hawa nafsu yang merasa masih panjang umurnya. Adapun hawa nafsu yang menyesatkan manusia dari kebenaran dan hawa nafsu yang masih merasa panjang umurnya (panjang angan-angan) semua itu akan lupa pada hari akhir“.

R.A

Tuesday, 15 May 2018

Catatan Pemuda Timur Indonesia

Niat telah terpatri dan langkah pun dimulai. Terbang mengarugi awan di atas bumi pertiwi, menuju bumi yang lain di belahan negeri. Ini adalah kali pertama raga ini berdiri, di sebuah negeri yang menyimpan hikmah di setiap sisi. Menceritakan sejarah panjang perjuangan di negeri ini. Inilah Bandung, bumi lautan api.

Sebuah masjid menghentikan langkah. Masjid indah dengan berjuta berkah. Menyimpan himah dan juga sejarah, akan menjadi pelopor peradaban negeri antah berantah. Di sana aku menuai kisah, yang akan tetap teringat dan tercatat dalam memori indah. Bersama saudara muslim dan saudari muslimah. Menimba ilmu dan pengalaman penuh berkah.

Kesempatan ini adalah sebuah kesyukuran. Memetik ilmu dan pelajaran di tanah pasundan. Berawal dari sebuah masjid bernama Salman, bangunan klasik pelopor peradaban. Hingga berjalan di sudut-sudut bumi parahyangan. Biarlah kuceritakan, tertawalah jika ini lucu, tapi bagiku ini mengesankan.
Di sini kuceritakan, bertemu dengan Saudara dan saudari yang memiliki satu tujuan. Berharap menjadi bagian kecil dari lahirnya sebuah peradaban. Walau pada akhirnya harus ada perpisahan, namun hati ini akan tetap terpaut di atas sajadah keimanan.

Dalam satu tempat kami dikumpulkan. Bersama 100 pemuda yang siap berlelah mengahadapi tantangan. Mencoba belajar dan memetik hikmah dari berbagai guru ilmu, guru alam, dan guru kehidupan. Berjalan jauh di tengah hutan, dengan pundak memikul beban. Memang lelah, tapi tidak jika kita bisa mengambil makna dari sebuah kebersamaan.

Di sini kuceritakan, tentang sebuah negeri yang indah dengan pesona yang menawan. Ada laut, danau, gunung, dan juga hutan. Semua ada dan terbentang sejauh pandangan. Menyimpan mineral dan kekayaan dalam setiap kerukan. Namun sayang kawan-kawan, Negeri ini berpenyakitan. Bukan karena negerinya yang salah, namun ulah mereka yang duduk di kursi dengan memegang berbagai jabatan.

Negeri ini butuh perubahan. Butuh orang yang bekerja atas dasar cinta, bukan kekuasaan. Orang yang bekerja atas dasar iman, bukan nafsu syaitan. Membangun negeri ini dengan damai dan penuh keberkahan.

Wahai saudara dan saudariku yang hanya karena Allah aku mencintai kalian. Melalui catatan ini aku berdo’a dan berpesan, semoga kisah ini tak akan terlupakan. Bahwa kita pernah bersama dalam satu tujuan, dalam satu ikatan takbir yang kita teriakkan. saling mengingatkan untuk kebaikan, dan satu tujuan yang kita citakan.

Romli Amrullah - LMD Nasional 193

Monday, 14 May 2018

Sepenggal Kisah Di Tanah Pasundan


Sepenggal kisah menggoreskan tinta cerita dalam kehidupan. Tidak ada yang patut untuk diucapkan selain rasa syukur atas kesempatan yang telah Allah berikan. Kesempatan yang memberikan pengajaran bahwa kita punya negeri yang indah penuh pesona dan keluhuran. Iyalah Bandung, tanah pasundan dan bumi parahyangan. Biarkan kuceritakan.. Tertawalah jika ini lucu, tapi bagiku ini mengesankan.

Ada yang mengesankan untuk setiap jumpa yang pertama. Perjumpaan yang mengenalkanku pada satu dari beribu tempat indah di negeri tercinta. Tanah yang menjadi saksi perjuangan para pendahulu bangsa. Tanah yang menyimpan banyak cerita dibalik keelokannya. Menjadi penyejuk bagi insan yang menyapa. Menyimpan pesan dalam setiap sudut-sudutnya.

Di sini kuceritakan. Bertemu dengan banyak saudara/i yang memiliki satu tujuan. Walau pada akhirnya harus ada perpisahan, namun hati ini akan tetap terpaut atas dasar keimanan. Wahai saudara/i ku yang hanya karena Allah aku mencintai kalian, melalui goresan ini aku berpesan semoga cerita ini takkan kita lupakan. Bahwa kita pernah bersama dengan satu tujuan, dalam satu ikatan takbir yang kita teriakkan. Saling mengingatkan untuk kebaikan, dan untuk satu tujuan yang kita citakan.

#LMDN193
#RapatDanLurus
#ExtraMiles
#KebaikanYangMengalir
#IjtihadTeknologi
#MerdekaUntukPeradaban
#Bandung
#MasjidSalmanITB